Oleh : H.Entang Adhy Muhtar
(Ketua DKM Al Muhajirin )
Segala
puji kita panjatkan ke Hadlirat Allah
Swt., yang telah mempertemukan kembali kita memasuki akhir bulan ramadhan . Kita merasa gembira , karena
sebentar lagi kita akan mnyambut hari raya idul fitri yang penuh keberkahan , keagungan dan hari kemenagan
karena telah sebulan lamanya digembleng
dalam kawah candradimuka bulan suci ramadhan. Sebagai ungkapan rasa syukur dalam menyongsong datangnya hari kemenangan berjihad melawan hawa nafsu
untuk memperoleh derajat taqwa dan kesician lahir dan batin .
Sebulan lamanya kaum muslimin
dilatih pada siang hari merasakan
lapar dan dahaga , mengekang segala bentuk nafsu yang dapat membatalkan ibadah puasa. Begitu juga pada malam harinya , selama sebulan
kita kaum muslimin dianjurkan
untuk memperbanyak dan meningkatkan
kualitas amal melalui salat tarawih berjamaah , berdzikir , membaca alquran , bertobat . Kesemuanya
sebagai tabungan amalan kita yang akan
kita raih untuk bekal kehidupan akhirat
yang abadi nanti.
Di sisi lain kita merasa bersedih , mengapa ? Karena kita
harus berpisah dengan tamu agung
yang dirindukan kedatangannya yang membawa sejuta kebahagiaan,
ditangisi saat perpisahannya, karena
bulan ramadhan adalah sahrul rahmat , syahrul mubarokah, syahrul qur’an
dan syahrul magfiroh telah meninggalkan kita .
Hal ini
sebagai Sabda Rasullah SAW
“Andaikata ummatku mengetahui ( tentang hikmah/rahasia) apa yang ada pada bulan ramadhan,
niscaya mereka ber- angan-angan agar
waktu sepanjang tahun (semuanya) adalah
ramadhan.”
Rangkaian ibadah shaum merupakan wujud menghambaan diri atas seruan Allah ,
agar manusia kembali kejati diri
sebagai mahluk yang mulia. Tiada
sesuatu yang bisa diperoleh kecuali berharap belas kasihan-Nya, tiada sesuatu
yang bisa diperbuat kecuali atas bantuan kekuatan-Nya (La haula wala quwata
illa billah). Perasaan dan penghayatan terhadap seruan ini menumbuhkan rasa cinta dan mahabbah dihadapan
Allah yang umat merasa kecil
dihadapan-Nya dan tak memiliki kekuatan apa-apa, dan karenanya kita akan selalu memelihara qolbu, niat, dan hati
terhindar dari hal-hal yang dapat
mengotori hati kita dalam menerima cahaya dan kebernaran dari Allah SWT.
Ibadah shaum merupakan wahana
untuk melatih dan membersihkan jiwa dan
raga dari dorongan nafsu hewaniah yang mendatangakan dosa dan noda ,
bersujud mohon amapuan Nya Permohonan ampunan tidak hanya untuk diri sendiri
melainkan untuk kedua orang tua, keluarga, dan kaum muslimin muslimat baik yang
masih ada maupun yang telah tiada (meninggalkan dunia yang fana ini.. Untuk
itu, pikiran, perasaan, hati, dan tenaga hanya dipusatkan kepada satu tujuan
untuk memperoleh ampunan Allah Maha Penyayang.
Sebagaimana Allah ingatkan dalam
firmannya Surat Thaha 83
” Dan sesungguhnya
Aku Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertobat, beriman, beramal shaleh, kemudian tetap di jalan yang benar ”
Pesan moral apakah yang dapat
kita tarik dari hikmah bulan ramadhan. ? Pesan itu adalah kita mesti merenung
kembali akan hakekat arti kehidupan
kita sebagai manusia yang membawa amanah sebagai khalifatullah ( wakil Allah ) dan hamba Allah yang hanya bertujuan memurnikan ibadah kepada-Nya,
dengan jalan jihad fi sabillah ,
menyayangi kepada sesama , dan memperoleh
derajat taqwa untuk menggapai ridlo dan
pahala dari Allkah azza wa zalla.
Ibadah shaum yang disertai dengan
berbagai amalan lainnya usai sudah kita tunaikan sebulan penuh lamanya..
Namun demikian apakah kita termasuk yang berhasil memperoleh hikmah dari bulan ramadha atau
tidak , hal ini sangat tergantung pada bagaimana kita dapat melanjutkan ibadah pada bulan ramadhan , kemudian kita
amalkan kembali pada bulan berikutnya untuk terus memperbaharui keimanan kita. Merayakan iedul fitri
bukan hanya serba baru
pada unsur lahiriah dengan pakaian atau baju baru , kendaraan
baru , tetapi hakekatnya adalah baru
dalam semangat ibadah, baru dalam perilaku laku yang lebih baik dalam
kehidupan keluarga maupun amasyarakat sebagaimana dicontohkan oleh
Rasulullah SAW dan para sahabatnya..
Manakala benar ibadah ramadhan kita ,
maka akan terlihat dalam aura
pribadinya, ada cahaya di mukanya
, ada tanda kecintaan dan kerinduan kita yang
semakin bertambah kepada Allah dan RasulNya .
Kita bermohon semoga Allah SWT
memberikan kekuatan lahir batin pada kita semua, agar kita dapat
meneruskan amalan ramadhan dan selamat serta bahagia fidunnya wal
akhirat.
Ada
ungkapan dari Hojjtul Islam Imam Al Ghazali, yang menyatakan : ” Yang
jauh itu adalah ”Waktu” yang dekat itu ” Mati” , yang besar itu ”Nafsu” , yang berat itu
” amanah” dan yang indah itu adalah ”Saling memaafkan ” , marilah
kita saling memaafkan diantara sesama,
karena tidak ada manusia yang mulia kecuali minta maaf dan memaafkan orang lain .
Akhirnya kepada Allah kita mohon petunjuk
, Tunjukkilah ya Allah jalan yang lurus yaitu jalan orang-orantg yang telah Engkau
beri nikmat , bukan jalan orang-orang yang sesat dan Engkau murkai, aamiin ya Allah yang Rabbal
’alamin.
0 comments:
Post a Comment